Berbicara tentang
golput pasti erat kaitannya dengan Pemilu atau Pemilihan Umum. Berhubung bentar
lagi mau pemilihan presiden 2014, dan juga beberapa hari yang lalu gue sudah
merasakan langsung atmosfir khas dari pesta demokrasi untuk memilih calon
pemimpin daerah gue. Bukan hanya satu pesta namun ada dua pesta sekaligus yang
berlangsung. Selain mencari pemimpin Banyumas, pemimpin Jawa Tengah pun mesti
dicari, dengan menghabiskan dana yang setara dengan memberi makan jutaan rakyat
miskin di Jawa Tengah. Dengan didorong keinginan luhur, gue pun nyoblos. Dalam
pencoblosan gubernur kemarin sebenernya udah ketebak siapa yang bakal menang.
Kecuali milihnya pake poling sms, engga bakal ketebak. Kecuali salah satu
kandidat ada yang make jilbab. Lu kate
fatin.
berkat kecepatan internet yang cepat blog ini berhasil lahir dengan selamat...! blog yang berisi karya-karya gue, yang iseng aja nulis di ms.word. semoga aja banyak yang baca, tanpa gue masukin gambar bokep, amin......
Tampilkan postingan dengan label sendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sendiri. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Juni 2013
Selasa, 03 Mei 2011
Sebuah renungan
Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan, atau apakah pikiran saya yang tidak dapat menyentuh mereka, sudah lama saya memikirkan kejadian ini, kejadian yang membuat saya sejenak menghela napas...
Jumat, 29 April 2011
Sumbangan = tekanan moral
Sepulang kuliah saya sudah diganggu dengan ocehan ibu saya, entah apa yang menjadi permasalahannya. Saya pun di jadikan tempat penyampaian unek-unek ibu saya, sebagai anak yang baik saya dengan berat hati mendengarkan gerutuan ibu saya. Kejadian bermula ketika adik saya pulang, adik saya ini bersekolah di SMP N 2 Sokaraja dia masih kelas satu. Ketika dia pulang, seperti biasanya dia menceritakan hal yang terjadi di sekolahnya, namun topik hari ini adalah masalah sumbangan sekolah,begini ceritanya, waktu pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) semua siswa seperti biasa digiring ke lab. Komputer untuk melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar, namun sebelum pembelajaran hari itu dimulai sang guru memulai nya dengan pengumuman yang initinya meminta iuran perawatan komputer dan Internet sebesar 5.000 satu anak perminggu. Lalu di lanjutkan dengan nasehat yang sungguh memalukan bagi saya yaitu, bila terdapat anak yang merusak komputer, maka dia akan menggantinya. Yang menjadi bahan humor antara saya dan ibu saya adalah ketika adik saya bercerita pada saat pembelajaran berlangsung teman-temannya tidak berani memegang mouse, dikarenakan takut rusak dan nantinya di suruh mengganti.
Kamis, 21 April 2011
SAYA BUKAN KARTINI
Pagi ini tidak seperti biasanya, saya bangun pagi sekali mungkin karena ini bukan rumah saya, tetapi rumah embah saya, saya keluar lewat pintu belakang, entah kenapa saya memilih belakang, tak usah ditanyakan karena memang tidak penting, tiba-tiba terlihat wanita tua kira-kira berumur 70 an tahun sedang membersihkan halaman, saya mendekatinya diam-diam sambil merangkak menirukan gaya babi ngepet sedang bertugas, setelah sudah sangat dekat, saya kembali menjadi manusia kembali, sayapun menegurnya,
saya translet bahasanya karena kami menggunakan bahasa ngapak.
Dan namanya saya samarkan, sebut saja mawar.
Selasa, 12 April 2011
pak kalla
Masyarakat Indonesia harunya mampu lebih objektif dalam memilih calon pemimpin mereka, apalagi dengan banyaknya masalah yang dihadapi negeri kita tercinta ini, secara rasional kita tentu tidak butuh pemimpin yang lamban dalam membuat kebijakan, Indonesia selanjutnya, bila dibandingkan negara tetangga kita Malaysia, kita sudah terlalu jauh tertinggal padahal dulu Malaysia masih mengirimkan warganya untuk belajar di Indonesia, namun sekarang kita justru yang mengirimkan warga kita untuk bekerja disana ini sungguh ironis. Masyarakat Indonesia mulai sekarang harus dirubah cara berpikirnya atau mindset karena sudah terbukti dengan psikologi berpikir yang memilih presiden berdasarkan image boleh dibilang gagal, presiden kita sekarang yang di elu-elukan karena pembawaanya yang tenang dan tidak gegabah ini lebih menonjolkan citra baik di depan publik untuk kepentingan karir politiknya dari pada menyelesaikan permasalahan di negeri ini, meskipun setiap karakter capres kita berbeda, tapi kita harusnya peka sosok seperti apa yang dibutuhkan Indonesia sekarang.
Selasa, 29 Maret 2011
Pak Ali v.s Birokrasi (part 1)
Tanggal 20 januari 2010, hari itu saya ingat hari kamis, diminta bapak saya untuk menemani teman bapak saya yang bernama Jumali, biasa saya panggil pak Ali. Pak Ali ini berniat untuk mendaftarkan CV barunya ke kantor pajak Purwokerto dan dinas penanaman modal Purwokerto, perlu kawan ketahui bahwa pak Ali baru saja mendirikan sebuah usaha yang bergerak di bidang dagang maupun jasa, cukup sekilas saja takutnya dikira promosi hehehe.... balik lagi ke cerita. Jam 8 saya sudah siap dengan motor saya untuk menjemput Pak Ali dikantornya yang beralamat di Sokaraja yang tidak jauh dari kediaman saya karena dia juga menjadikan kantornya sebagai rumah untuk dia tidur (kasian sekali dia).
Setelah saya tiba di kantornya..
Saya: Asalamu’alaikum
Pak Ali: Walaikum’salam dek, masuk ayo masuk..
Saya: oh iya pak...
Pak Ali: lho bapak mana..?
Saya: di rumah pak, saya disuruh kesini dulu.
Pak Ali: ow iya ayo langsung berangkat aja....takut kesiangan.
Saya: owh iya pak mari..(dlm hati pikir saya baru jam 8, kesiangan dr hongkong).
Setelah itu saya langsung meluncur ke kantor pajak dulu sesuai keinginan pak Ali.
Sebelum saya lanjutin cerita ini, saya beri tahu sekilas tentang Pak Ali. Tampangnya serem kayanya emang udah tua juga sih, asal Boyolali, menikah, umur 40an, jumlah anak kurang tau, perawakan sedikit besar, pembawaan dlm berbicara tegas, keras, to the point.(kaya bukan tipe org jawa yg halus dan lembut).
Di perjalanan ke kantor pajak dia bercerita tentang kegagalan bapak saya dalam memperoleh NPWP di kantor pajak karena surat-surat cv pak Ali yg belum lengkap. Jadi ini ronde kedua, kata saya dalam hati hehehe.... bisa menang enggak yah?
Setelah sampai di kantor pajak,
Pak Ali: dek, kamu ikut masuk ya?
Saya: iya pak..( dlm hati saya “ya iyalah masa suruh panas-panasan diluar”)
Setelah masuk Pak Ali berinisiatif untuk bertanya prosedurnya memperoleh NPWP kepada salah satu petugas. Setelah tahu caranya pak Ali menyuruh saya untuk mengisi secarik kertas, seperti formulir.(pikir saya kenapa bukan dia saja yang mengisi, dan saya baru sadar kenapa saya dibawa masuk, karena mata pak Ali pandanganya sudah kabur dan dia tidak bisa mengisi formulir yang tulisanya sangat kecil..Huft..)
Setelah selesai kami mengantri untuk pemanggil, tidak butuh waktu lama karena memang pengujung kantor pajak waktu itu sedikit. Lalu pak Ali pun di panggil.
Singkat cerita, Saya kurang bisa mendengar percakapannya dengan petugas, tapi intinya prosedurnya salah, dan diminta untuk memfotocopy ktp dan surat dari notaris. Saya pun menjadi korban untuk memfotocopy kertas tsb..perlu kawan ketahui tempat fotocopynya tidak dekat dan merelakan tubuh saya berjalan keluar terkena panas. Setelah kembali dari tempat fotocopyan.
Pak Ali: fotocopyannya jauh ga dek?
Saya: enggak kok pak (dlm hati saya,” padahal lumayan... jauh asem...”)
Pak Ali: owh berarti bisa.. fotocopyin ini sama beli materai ya.. tolong ya dek?
Saya: iya pak ( pikiran saya !@@$#$%#!%^&%&^(&&#$@#)
Setelah kembali dari tempat foto copyan untuk kedua kalinya, saya duduk manis menunggu pak Ali. Perlu kawan ketahui, terjadi perdebatan seru antara petugas pajak dangan pak Ali. Kira-kira isinya begini.
Petugas: wah pak ini tidak bisa pak, ktp bpk sudah mati.
Pak Ali: iya saya tahu, tapi kan saya sudah niat baik untuk mendaftar pajak.
Petugas: tapi tidak bisa.
Pak Ali: lho wong saya mau bayar pajak kok dilarang,? Sampeyan mau saya tidak bayar pajak? Sudah bagus saya mau bikin NPWP. Kalau tetap tidak bisa saya bikin surat ke bupati biar tau anak buahnya bagaimana (dengan penuh semangat dan emosi). Wong saya cari makannya di Purwokerto masa saya bayar pajak ke Boyolali (memang NPWP CV pak Ali yg lama beralamat di Boyolali).
Petugas: jangan pak...ya sudah saya buatkan.
Pak Ali: ya begitu seharusnya.
Singkat cerita akhirnya kami berhasil mendapatkan kartu NPWP. Di dalam perjalanan menuju dinas penanaman modal pak Ali berbicara seperti ini “ dek memang harus dibegitukan kalau tidak, tidak akan keluar NPWPnya”. Saya berkata dlm hati “memang datanya Pak Ali saja yang kurang memenuhi syarat untuk dibuatkan NPWP”, tapi saya salut ternyata dia bisa menang melawan birokrasi hehehe..........
Mahasiswa dan Ideologi yang Tergadai
Banyak orang yang menggebar-geborkan tentang ideologi,dari mulai orang pintar yang sukses, para ahli dibidangnya sampai orang pintar yang tidak sukses juga ikut-ikutan berbicara tentang pentingnya ideologi. Ya, memang setiap orang harus mempunyai sebuah ideologi yang jelas didalam dirinya, karena kenapa? Ideologi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipegang teguh selama dia hidup, kalau hal tersebut tidak begitu, maka tidak bisa disebut sebagai ideologi. Seperti kata Francis Bacon Ideologi adalah sintesa pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup.
Memasuki tataran kampus, dimana mahasiswa yang mencoba mencari ideologinya, salah satu caranya bisa melalui organisasi intra atau ekstra kampus. Mereka dituntut bisa menyampaikan pendapatnya didalam sebuah forum, dimana akan terjadi proses dialektika antara para mahasiswa. Tanpa mereka sadari proses tersebut akan membentuk sebuah ideologi yang mereka perjuangkan didalam forum tersebut. Lalu di masyarakat, mahasiswa dianggap sebagai “mulut” dari rakyat kecil dimana rakyat kecil bisa disebut sebagai orang yang menjadi korban atas kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang berkuasa. Mahasiswa di harapkan bisa sebagai pahlawan yang membela rakyat kecil. Cara yang paling sederhana dan paling bisa ditebak adalah dengan melakukan demo, ya demo adalah cara klise mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi dari rakyat kecil. Dalam hal ini ideologi mahasiswa sudah terbentuk, dimana mereka berfikir bahwa mereka ada karena untuk membela kaum yang tertindas.
Pasca lulus dari perguruan tinggi banyak mahasiswa yang menggadaikan ideologinya, fenomena seperti ini banyak kita rasakan dimana sewaktu masih beralmamater para mahasiswa berteriak “ bela kaum miskin, sejahterakan rakyat, berikan kami keadilan” teriakan-teriakan seperti itu yang ada saat berdemonstrasi dirasakan hilang pada saat mahasiswa sudah meninggalkan tataran kampus. Saya yakin para pejabat yang duduk di senayan sana juga memilki sebuah ideologi yang mulia ketika belum menjadi anggota dewan yang terhormat atau mungkin menjadi mahasiswa. Contohnya saja bapak Budiman sujatmiko, dia adalah seorang aktivis 1998 ketika menggulingkan rezim Soeharto, sampai-sampai dia masuk penjara. Namun ketika dia sudah menjadi anggota dewan yang dikelilingi oleh fasilitas mewah dan harta melimpah, malah bisa dibilang “ideologinya tergadai” kinerja yang diharapkan bisa membuat perubahan seperti saat dia berteriak dijalan waktu menjadi seorang demonstran dulu, hasilnya kini nol besar. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.
Lalu beberapa pertanyaan muncul dari benak saya,
1. Akanakah para mahasiswa hanya bisa berteriak tentang keadilan dan penindasan ketika dia beralmamater saja?
2. Akankah tuntutan mereka akan hilang ketika mereka lulus?
3. Segampang itukah mereka menggadaikan ideologi, dengan tupukan harta dan silaunya tahta?
Nb: Siapa tahu para pejabat yang koruptor, waktu mahasiswa dulunya itu seorang demonstran.
Ternyata menulis itu tidak mudah, masih mending demo dijalan.
Hidup rakyat miskin.......................!
He..........he..........he..........he.............!
Si buta Si tuli dan Si orang gila (ngomongin negara)
Pada suatu hari, ada percakapan antara 3 orang yang mempunyai kekurangan pada dirinya. Sebut saja si buta, si tuli, dan orgil (orang gila).
Si buta: kalian berdua sadar ga kita hidup di negara yang sangat kaya raya, dari mulai daratannya yang subur sampai lautannya yang menyimpan beraneka ragam ikan yang melimpah...?
Si tuli: lu ngomong apa sih, gw ga denger...?
Langganan:
Postingan (Atom)