Minggu, 23 Desember 2012

Ibu


Suatu pagi aku bercermin di kaca, berdiri tegap sambil merapikan rambutku, “aku sudah sebesar ini” gumamku dalam hati. Hari itu entah mengapa aku teringat ketika ibu membantu menggedong tubuh kecil untuk sekedar menolongku bercermin. “tampaknya sudah terlampau cepat waktu membuatku sebesar ini”. Bila membayangkan ibu masih menolong menggedongku untuk bercermin, sepertinya mustahil. Badanku saja sudah melampaui badan beliau. Sejenak aku memandang ibu dari kejauhan, beliau masih sibuk memainkan sejatanya di dapur. Terlihat kebiasaan beliau pagi hari, sama seperti pagi sebelumnya. Menyiapakan sebuah makanan ala kadarnya, namun terasa spesial bagi yang omnivora. Nampaknya sifatku yang omnivora tak menurun ke adik perempuanku, dia sangat pemilih makanan, sampai Ibu harus memutar otak bila harus memasak. Kasihan Ibu.

            “aku berangkat bu” sambil mencium tangan kasarnya.
            “hati-hati ya” diselingi senyum khasnya.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, aku masih membayangkan Ibu superku. Bila teringat masa TK dulu, aku selalu diantar beliau, dengan mengandeng tanganku erat, benar-benar menjadi malaikat pelindungku. Senyumku lepas ketika teringat bila sewaktu berangkat ke TK kita selalu melewati tukang mainan, dan selalu saja aku merengek minta dibelikan. Namun rengekanku selalu dibalas dengan senyum dalam penolakan secara halus, memang Ibuku mengajarkan anak2 nya untuk tidak manja. Lamunanku tentang masa lalu tiba2 berhenti ketika kendaraanku sampai di kampus. Aku kemudian mencari tempat kosong untuk menunggu teman, sambil menghabiskan rokokku, mungkin saja Ibuku akan kecewa dengan perilakuku yang sudah merokok ini. Maafkan aku Ibu.
Semakin aku merasa membohongi Ibu, semakin aku memikirkan kesalahanku kepada beliau. Dosa ketika kita bilang “ah” padahal waktu itu Ibu kita sedang menyuruh kita. Aku pernah melakukannya bahkan sering. Namun jujur saja setiap Ibu di dunia ini, pasti memaafkan setiap kesalahaan anaknya, tanpa si anak meminta maaf. Jadi mulai sekarang berhenti membuat beliau kecewa. Mulailah mempersiapkan masa depan, ngomong-ngomong masa depan, aku saja masih takut tidak dapat membuat Ibuku bangga, ya tapi aku tetap dalam koridor ingin membahagiakan Ibu. Salam Hari Ibu J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar