Sabtu, 01 Juni 2013

Golput

Berbicara tentang golput pasti erat kaitannya dengan Pemilu atau Pemilihan Umum. Berhubung bentar lagi mau pemilihan presiden 2014, dan juga beberapa hari yang lalu gue sudah merasakan langsung atmosfir khas dari pesta demokrasi untuk memilih calon pemimpin daerah gue. Bukan hanya satu pesta namun ada dua pesta sekaligus yang berlangsung. Selain mencari pemimpin Banyumas, pemimpin Jawa Tengah pun mesti dicari, dengan menghabiskan dana yang setara dengan memberi makan jutaan rakyat miskin di Jawa Tengah. Dengan didorong keinginan luhur, gue pun nyoblos. Dalam pencoblosan gubernur kemarin sebenernya udah ketebak siapa yang bakal menang. Kecuali milihnya pake poling sms, engga bakal ketebak. Kecuali salah satu kandidat ada yang make jilbab. Lu kate fatin.


Sebelum mencoblos gue sebagai teman yang rada kepo pun, mau tau apa si yang dipilih temen-temen gue. Gue pun bertanya sama temen gue yang pertama sebut aja si A.
“bro, elu mau nyoblos siapa?”
“ah gue golput bro, kaga ada duitnya si”
Nah, temen gue ini milih golput dengan alasan engga dikasih duit, dasar jablay. Emang si kebanyakan rakyat kita sudah dicekoki dengan politik uang, seakan itu menjadi sebuah budaya yang mengakar kuat. Sehingga mindset yang terbentuk adalah ajang kampanye merupakan ladang uang. Dan bila tidak ada uang mereka tidak akan nyoblos. Seperti sebuah syair lagu “ada uang abang nyoblos, engga ada uang libur nyoblosnya” dasar jablay.

Gue lalu tanya sama temen kedua gue, namanya si B.
“bro, elu mau nyoblos siapa?”
“ah gue golput, calon pemimpin sekarang engga ada yang bersih, korupsi semua, janji doang pas kampanye, pas udah jadi malah lupa, trus ngeruk uang sebanyak-banyaknya buat balik modal”
Hmm.. Temen gue yang satu ini emang rada kritis, engga percuma gue temenan 6 semester. Apa yang dikatakan si B, mungkin tergolong pemilih golput yang sudah melek politik. Dimana sikap golputnya merupakan bentuk protes mengenai sebuah sistem demokrasi dan muncul karena merasa percuma memberikan hak suara kepada para calon koruptor.

Nanya lagi gue sama temen, sebut aja si C.
“bro, elu mau nyoblos siapa?”
“gue mah siapa aja, yang penting bisa nerima gue apa adanya”
Belakangan gue ketahui si C ini lagi galau karena kelamaan ngejomblo, kasian ya. Orang yang kaya gini ga mungkin bisa kalo di ajak diskusi calon pemimpin yang tepat. kayanya nunggu sampe sm*sh ngecover lagunya slipknot juga percuma. Orang yang kaya gini elu sewain pacar aja. Yang sachetan juga dia mau.

Back to topic
Golput haram ga si?
Buset, gue engga bisa nentuin haram apa engga, yang punya legitimasi mah si bapak-bapak alim yang rakus duit berlabel MUI. Satu hal aja dari gue, yang pasti golput haram, ketika elu lebih milih nyoblos pacar daripada nyoblos pemimpin.

Dalam sebuah wawasan negara demokrasi, tidak berpengaruh sukses tidaknya pemilu tersebut dengan tingginya angka golput. Di negara yang sistem demokrasinya berjalan normal, sudah biasa kalau pemilu ‘hanya’ diikuti +/- 60% konstituen pemilih bahkan kurang dari itu. Sebagai misal, Di Amerika sana yang bisa dibilang nenek moyangnya demokrasi juga masih tinggi angka golputnya., berdasarkan data yang dilansir Federal Election Commission (FEC), angka partisipasi dalam pemilu Presiden 2004 hanya mencapai 55,3%. Sementara pemilu legislatif 2006 hanya berhasil menyedot 36,5% suara pemilih. Ini berarti angka ‘golput’ di Amerika berkisar 45-64%. (vide: Akhol Firdaus, Surabaya Post, 27 Maret 2009).

Sebenernya golput itu juga sebuah pilihan lho. Pilihan seseorang buat tidak memilih/menggunakan hak suaranya. Dari pengetahuan yang gue miliki, dalam pemilu setiap warga negara yang udah memenuhi syarat, sudah pasti punya hak pilih, nah hak pilih ya, bukan kewajiban pilih. Jadi tidak ada halangan untuk tidak menggunakan haknya. Golput juga merupakan sebuah proses politik lho. Fenomena golput sendiri sudah terjadi zaman pemilu 1955. Jadi bisa dibilang setiap pemilu pasti terjadi golput, hanya intesitasnya yang berbeda. Kalo boleh flashback sedikit ke zamannya orang yang sadis, yaitu Soeharto. Golput pada zamannya bisa dikatakan sedikit. Namun Pemilu di gelar dengan penuh intrik dan ketidakjujuran, “semua harus memilih GOLKAR, Demiii Tuuuhhhhaaannn.....!!!” begitu jargonnya. Namun ada sebagian orang yang idealis dan pemikir hebat tidak mau memilih dan akhirnya golput, jadi pada zamannya Soeharto kalo elu golput itu tandanya elu orang yang kritis dan pinter. Keren yak.


Waktu itu pernah ngobrol unyu sama seorang rakyat, sebut saja mbok Sarijem, punya niat memilih seorang karyawan yang akan melayaninya dalam 5 tahun kedepan. Dia memilih karyawannya sendiri. Karena memang para pemimpin dalam perspektif demokrasi merupakan pelayan bagi masyarakat. Pemikiran mbok Sarijem tentu sangat emosional terhadap negeri ini, dia memilih karyawan yang bisa mengelola negeri ini untuk kesejahteraan dirinya. Kalau sampai mbok Sarijem kelaparan tentu saja dia punya hak untuk memarahi dan memecat karyawannya itu tak ketinggalan juga goblog-goblogin si karyawan. Untuk mbok Sarijem-Sarijem yang lain kalau anda golput, anda tidak punya hak untuk memarahi si karyawan. Apalagi goblog-goblogin karyawan. Kalo ada orang yang engga nyoblos tapi ikut-ikutan protes tentang kebijakan, sama aja kaya gebukin maling rame-rame sampe sekarat padahal korbanya udah bilang “udah cukup berhenti, Cuma jepitan rambut saya kok yang dicolong”. Inget kata-kata gue tadi, kita mau engga mau terkena dampak dari kebijakan para pemimpin kita. Jadi pilihlah pemimpin yang benar dan tepat. Akhir kata udah coblos aja dulu masalah di PHP-in mah belakangan. Salam !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar