Jumat, 14 Juni 2013

Satu Momen

Terdengar suara gelas jatuh di hati ku, walaupun terdengar samar, walaupun hanya aku yang mendengar, walaupun hanya aku yang merasakan.



Sakit. Mungkin sudah banyak kata yang mengakomodasikan sebuah perasaan yang pahit itu, sudah lama juga hubungan ini berbentuk sebuah kata pacar.

Kenapa, kenapa tak simpan saja kalimat itu, mungkin aku salah, seharusnya kau katakan aja jujur kalimat itu, aku tak berani mengawali. Aku penakut, aku terlalu takut, aku sungguh buruk.

Kau, kau yang berani jujur, itu bagus, setidaknya membuat hatiku lega. Karena kau jujur.

Aku tahu kamu tahu perasaan aku, setidaknya tak sampai membuat mulutku berteriak untuk “jadilah diriku”

Mungkin ini hanya sekedar waktu saja, aku sendiri yang meredakan bara di hati ku ini. Cukup kamu diam saja. Karena posisimu, hati mu, dan perasaaan mu masih bagus dan stabil untuku. Terima kasih untuk itu.

Sulit memang mengakatakan kata “aku cemburu” untuk orang se gengsi aku. Iya “aku cemburu”. Semoga kau tak tertawa kasih. Terimakasih, telah menjadi potongan kisah kecil di setiap gerak jarum waktuku. Terimakasih telah sabar setidaknya aku yang bodoh ini sangat minus dalam keadaan sabar ini.

Hei ada kabar gembira, nampaknya tak perlu pemadam kebakaran untuk memdamkan bara dihatiku, aku sudah baikan, mungkin karena aku menulisnya disini. Terimakasih tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar